LEBARAN

HARI LEBARAN

Dari Abu Hurairah ra dan Abu Ayyub ra, Nabi saw bersabda : Siapa berpuasa Ramadhan, lalu disambung dengan 6 hari puasa Syawal, maka ia dianggap berpuasa setahun penuh. (HR Muslim). Nabi saw bersabda : Sungguh Allah telah menciptakan langit dan bumi pada 6 hari bulan Syawal, maka siapa puasa pada hari-hari tersebut, Allah swt mencatat baginya kebaikan sejumlah kebaikan tiap makhlukNya, dan perbuatan buruknya dihapus, serta dinaikkan derajatnya. (Durrah al-Nashihin). Dari Ibnu Umar ra, Nabi saw bersabda : Siapa puasa ramadhan, lalu menyambungnya dengan puasa 6 hari Syawal, maka ia dibersihkan dari segala dosa-dosanya, seperti anak yang baru dilahirkan ibunya. (Al-Targhib wa al-Tarhib).

Dari Ibnu Mas’ud ra Nabi saw bersabda : Ketika umat Islam berpuasa Ramadhan, lalu keluar menuju tempat shalat hari raya, maka Allah swt berfirman : Hai para malaikatKu, setiap buruh pasti mengharap upah atau gajinya, dan hamba-hambaKu yakni orang yang berpuasa Ramadhan, lalu keluar melaksanakan shalat Id, mereka menuntut upah atau pahalanya, untuk itu saksikanlah bahwa Aku benar-benar telah mengampuni mereka. Kemudian terdengarlah panggilan : Hai umat Muhammad, kembalilah ke rumahmu masing-masing. Aku telah menukar segala keburukanmu dengan amal bagus. Allah swt berfirman : Hai hamba-hambaKu, kamu telah berpuasa untukKu, berbuka juga karenaKu, untuk itu tegak bangunlah, kalian telah diampuni. (Zubdah al-Wa’izhin).

Nabi saw bersabda : Sungguh, Allah membebaskan setiap jam pada bulan Ramadhan siang malamnya sejumlah 600.000 orang dari neraka, yang mestinya disiksa, sampai lailatul Qadar atau malam Kemuliaan. Sedang khusus malam Kemuliaan itu Allah bebaskan sejumlah orang yang telah dibebaskan mulai awal bulan. Dan khusus dalam malam hari raya Allah bebaskan sejumlah orang yang telah dibebaskan mulai awal bulan dan Lailatul Qadar. (Tanbih al-Ghafilin).

Dari Wahab bin Munabbih, Nabi saw bersabda : Sesungguhnya iblis terkutuk pada setiap hari raya ia menjerit, sampai-sampai para anggota bawahannya datang berhimpun di sisinya, sahut mereka : Hai bos kami, , siapakah yang membuat tuan marah, kami siap memporak-porandakannya. Jawab iblis : Tiada apa-apa, tetapi Allah benar-benar telah mengampuni kepada umat ini, dalam hari raya ini. Untuk itu, kalian harus memalingkan mereka supaya sibuk  dengan segala makanan yang lezat-lezat, dan pelampiasan nafsu syahwat, minum arak, hingga Allah memurkai mereka. (Durrah al-Nashihin).

Maka dalam hari raya, orang yang sehat akalnya harus pandai mengekang diri dari segala macam hawa nafsu syahwat, dan hal-hal yang bersifat larangan, bahkan harus senantiasa dalam taat yang istiqamah. Nabi saw bersabda : Bersungguh-sungguh pada hari raya dengan bersedekah, dan segala amal baik dan bagus, seperti shalat, zakat, bertasbih dan bertahlil, sebab pada hari itu Allah mengampuni dosa-dosamu, mengabulkan doamu, dan memandangmu dengan penuh kasih saying. (Durrah al-Wa’izhin).

Nabi saw bersabda : Pada hari raya Fitri, Allah menugasi para malaikat supaya turun ke bumi, lalu merekapun turun ke setiap negeri, dan mereka berseru : Hai umat Muhammad, keluarlah kalian menuju ampunan dari Tuhanmu Yang Mulia. Dan ketika mereka nampak berangkat ke mushalla (tempat shalat mereka), Allah swt berfirman : Kalian saksikan hai para malaikatKu, bahwa telah kujadikan pehala mereka pada puasa mereka menjadi keridhaan dan ampunanKU. (Durrah al-Nashihin).

Dari Anas bin Malik ra, dari Nabi saw : Bahwasanya beliau saw berangkat menuju shalat Id, anak-anakpun asyik bermain gembira menyambut kehadiran Idul Fitri. Dan di antara mereka ada seorang anak duduk menyaksikan mereka yang tengah bergembira, pakaiannya bekas dan iapun menangis. Kemudian Nabi saw bertanya : Hai anak kecil, kenapa menangis sendirian kamu, sedang mereka tengah asyik bermain dan bergembira? Anak kecil itu belum mengenal Rasul saw, lalu menjawab : Hai laki-laki, ayahku meninggal dunia di sisi Rasul saw dalam mengikuti perang. Dan sesudah itu ibuku kawin lagi, menyita harta peninggalan ayahku, kemudian aku pun disingkirkan oleh ayah tiriku dari rumahku. Dan kini tiada makanan, minuman dan tempat tinggal bagiku. Sewaktu aku melihat anak-anak sebaya denganku pada hari ini, sedang mereka masih punya ayah, maka ingatanku tertuju ketika ayahku meninggal, itulah yang menyebabkan aku menangis.

Kemudian Rasulullah saw memegang tangannya, seraya bersabda : Hai anak kecil, sukakah jika aku sebagai ayahmu, “aisyah sebagai ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husain sebagai saudaramu, dan Fatimah sebagai saudara wanitamu? Maka iapun baru tahu bahwa pria yang di hadapannya adalah Rasul saw. Jawabnya : Kenapa tidak suka ya Rasul? Selanjutnya iapun dibawa pulang ke rumah beliau saw, diberi pakaian bagus, disuruh makan kenyang, dihiasi dan diberi minyak harum. Lalu iapun tertawa gembira, keluar menjumpai kawan yang sebaya dengannya. Dan ketika kawan-kawannya bertanya : Tadi kamu menangis, kini tertawa gembira, apakah yang terjadi pada dirimu? Jawabnya : Ya, tadinya perutku lapar kini sudah kenyang, tadinya aku berpakaian buruk kini berpakaian baik, dan keberadaankusebagai anak yatim, maka Rasulullah saw sebagai ayah dariku,  Aisyah sebagai ibuku, Hasan dan Husain sebagai saudara priaku, Ali sebagai pamanku, Fatimah sebagai saudara perempuanku, kenapa kini aku tidak bergembira? Sahut kawan-kawannya yang sebaya : Sekira ayah kami meninggal dalam perang sabilillah itu, pasti aku pun seperti dia.

Alkisah, setelah Rasulullah saw wafat, anak kecil itupun keluar merasa sangat sedih, hingga menaburkan pasir pada kepalanya, ia minta bantuan, ucapnya : Kini keberadaanku seperti semula menjadi anak yatim lagi. Akhirnya iapun ditampung oleh sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq, untuknya sendiri. Nabi saw bersabda : Sifat pemurah itu tidak bedanya seperti pohon sorga, dahan-dahannya menjulur ke dunia, siapa mengambil sebuah dari dahan-dahan tersebut, ia dituntun ke sorga. Sebaliknya sifat kikir itu seperti pohon di neraka, dahannya menjulur ke dunia, siapa mengambil sebuah dahan dari pohon tersebut, maka ia terseret ke dalam neraka. Orang kikir sulit masuk sorga, sekalipun ia sedang zahid (suka beribadah dan melupakan duniawi). Nabi saw bersabda : Orang pemurah itu dekat dengan hak dan dekat masyarakat, tetapi orang kikir itu menjauhi yang hak dan masyarakat. Peduli dhu’afa` dan anak yatim adalah kemabruran ibadah kita. Hari lebaran adalah bebas dari dosa dan nista. (Achmad Muhammad).

Leave a Reply