JATUHNYA HARKAT DAN MARTABAT BANGSA
Insaf dan sadar terhadap eksistensi diri sebagai hamba yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan mensyukuri segala anugerah yang dilimpahkan dalam hidup dan kehidupan di bumi pertiwi tanah air Indonesia adalah merupakan akhlak yang mesti harus dimiliki bagi setiap warganegara yang beriman.
Cinta negeri sendiri bagi setiap warganegara dimanapun, bangsa apapun di dunia ini adalah menjadi ruh atau nyawa yang akan menghidupkan gairah jiwa untuk memiliki, mempertahankan, membela dan memperjuangkan agar negerinya unggul dan berwibawa di mata bangsa-bangsa lain. Rasa persatuan dan kesatuan sebuah bangsa haruslah terus menerus ditumbuh suburkan demi terwujudnya pertahanan dan ketahanan nasional yang kokoh kuat dan perkasa dalam menjaga keamanan serta ketenteraman dan kesejahteraan pemerintah, penduduk dan rakyatnya. Tolong menolong, bantu membantu dan kasih sayang wajib diimplementasikan secara adil terhadap semua komunitas yang ada, baik yang kuat maupun yang lemah dan tidak membeda-bedakan dengan landasan kemanusiaan yang beradab. Wakil-wakil rakyat yang bijak bestari selalu berorientasi kerakyatan dan menghasilkan produk-produk perundang-undangan dan peraturan serta keputusan yang penuh hikmat untuk mencapai kemakmuran lahir batin dengan berkeadilan sosial bagi bangsa dan Negara. Konsistensi kehidupan bangsa yang demikian, merupakan jaminan terwujudnya harkat dan martabat bangsa yang unggul dan disegani oleh kawan maupun lawan.
Saat ini yang menarik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tanah tumpah darah kita, yakni memudarnya rasa dan jiwa sebangsa dan setanah air bagi para penguasa terhadap rakyatnya. Akhir-akhir ini seolah tiada henti-hentinya bangsa ini dilanda bencana dan malapetaka baik di darat, laut dan udara. Peristiwa tentang berbagai kasus tenaga kerja di luar negeri terutama buruh rumahtangga (TKW-TKI) di Arab, Malaysia, Taiwan dan lain-lain yang didholimi majikannya sehingga cacad badan dan mental selama hidupnya bahkan ada pula yang sampai matipun tidak pernah mendapatkan perhatian khusus para pejabat yang berwenang dari negeri ini untuk diangkat menjadi kasus hukum pelanggaran hak asasi bangsa Indonesia yang diinjak-injak bangsa asing. Seorang pelajar di Singapura yang dikabarkan mati bunuh diri terjun dari bangunan bertingkat karena gagal dari rencana membunuh gurunya sehingga ketakutan, pada hal yang demikian itu sungguh tidak masuk di akal sehat untuk dilakukan seorang pelajar pintar dan pilihan; lagi pula telah tercium kabar bahwa pelajar tersebut ternyata dipaksa gurunya yang gay untuk melayani nafsu bejatnya dan menolaknya lalu bisa jadi pelajar itu sengaja dijatuhkan dari atas bangunan sehingga mati; dan berhenti di situ urusan pun selesai sedang pemerintah hanya diam tanpa berkomentar sama sekali. Yang lain lagi seperti nasib mereka yang telah tiga tahun jadi korban lumpur lapindo, dan berbagai-bagai korban pesawat terbang jatuh, serta kapal motor penumpang yang tenggelam di laut, atau akibat bencana alam seperti tsunami, gempa bumi dan tanah longsor serta lain-lainnya. Semuanya apabila dirunut dengan pikiran jernih dan hati yang bersih, akan diakui bahwa semua itu karena prilaku bangsa ini yang sudah kehilangan harkat dan martabat bangsa yang unggul dan dibanggakan yang mereka tak pernah mau tobat dari perbuatan manipulasi dan korupsi. Korupsi yang telah merajalela merata diberbagai infra struktur pemerintah dan penggelapan di perusahaan swasta di semua tingkatan tanpa ada rasa malu apalagi takut diberi sanksi hukum, lebih-lebih kini jelas-jelas para koruptor telah berhasil menghabisi musuh yang ditakutinya yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan menjebloskan Antasari Azhar selaku ketuanya sebagai tersangka pelaku otak pembunuhan Nasarudin Zulkarnaen, dan ternyata tindakan itu amat jitu dan schak maat mematikan supremasi hokum walaupun masih juga tebang pilih. Lihat yang teramat actual lagi, Manohara Odelia Pinot putri Daisy Fajarina yang menderita sebab diperlakukan suaminya seorang putra raja Kelantan Malaysia karena kelainan seks sehingga ia disuntik dibius dan disilet-silet, tetapi Duta Besar RI untuk Malaysia Da’i Bachtiar memberitakan bahwa Manohara baik-baik saja, dan memangnya seluruh negeri ini penguasanya diam membiarkan nasib Manohara sebagai salah-salahnya sendiri. Mano berpendapat Duta Besar RI kayak begitu sepatutnya diganti saja sebab telah mendustakan kebenaran dan sengaja membiarkan warga bangsanya tersiksa menderita. Pada hal masih banyak manohara-manohara lain yang mempunyai nasib semisal dinegeri orang. Penguasa hanya carmuk (cari muka) dan jaim (jaga image) semata.
Kini muncul masalah yang jauh lebih penting lagi, Malaysia telah benar-benar melecehkan pertahanan perbatasan negeri ini. Setelah Malaysia berhasil mencaplok Pulau Lipatan dan Sempadan dari Indonesia, sekarang akan coba-coba mencaplok Pulau Ambalat. Negara tetangga ini telah membuat manuver-manuver yang sangat mencolok benar-benar meremehkan dan melecehkan kekuatan militer Indonesia di perbatasan, dan tidak mustahil apabila seterusnya akan diikuti Negara-negara lain yang bermental serupa dengan Malaysia. Mereka tentunya sudah tahu bahwa negeri ini amat lemah menurut kacamata mereka di bidang pertahanan lautnya, sebab hakekatnya bukan rahasia lagi akan kelemahan Indonesia yang notabene para pemimpinnya hanya sibuk membuat rencana-rencana memperbesar hutang dari luar negeri (IMF misalnya dll) dengan harapan nantinya mereka akan memperoleh penyunatan dalam penggunaannya dan dapat membuat rekayasa-rekayasa kwitansi khayal yang teramat menguntungkan dirinya sendiri mumpung mereka saat ini jadi penguasa. Sungguh para pemimpin negeri ini hanya memikirkan bangsa dan Negara dengan perhitungan keuntungan-keuntungan financial pribadi atau golongannya sendiri yang mesti harus dapat dikeruknya, tiada lain. Seorang pejabat merencanakan anggaran belanja dengan “cermat”, yang selanjutnya nanti pada saat pelaksanaan program-programnya mereka dijamin pasti akan memperoleh hasil dari pemotongan beaya dana yang dikeluarkan dari anggaran tersebut. Hal ini dapat dibaca ketika pemerintah menyerahkan dana bantuan pembangunan kepada lembaga-lembaga yang ditangani masyarakat, maka saat itulah terjadi penyunatan jumlah dana yang ada dengan jumlah yang variatif, ada yang disunat 20% dan ada juga yang disunat sampai 50%. Tetapi, selanjutnya bagi masyarakat yang menerima bantuan dana itu, tetap wajib memberikan laporan pertanggungjawaban kepada pemerintah terkait dengan secara dana pemberian bantuan yang utuh 100%. Hal semacam ini bukan barang rahasia lagi, sudah merata seluruh tanah air, artinya bangsa ini telah dididik berdusta, dan demikian pulalah tentunya berbagai prilaku para penguasa yang di atas, dan mungkin bahkan bisa lebih dahsyat lagi. Pemimpin bangsa ini sudah bermoral bejat, tidak punya harga diri, tidak punya rasa malu, seenaknya saja membuat peraturan dan semaunya sendiri pula merubah peraturan dan bahkan melanggar peraturan dengan cara lembaga-lembaga penegak hokum yang ada juga harus ditundukkan. Lengkap sudah kedurjanaan yang dilakukan. Mereka hanya sibuk urusan perutnya sendiri, dan benar-benar telah menjadi musuh rakyat yang berkedok pahlawan pembela rakyat; sebab mereka berprilaku semakin merugikan bangsa dan Negara, bahkan menjual berbagai asset Negara kepada pihak asing dengan hanya demi menggendutkan gemblungnya sendiri yang kayaknya tidak akan pernah kenyang dan puas.
Bangsa ini butuh pemimpin yang berani menegakkan keadilan dan kebenaran dengan penuh tanggungjawab. Bangsa ini butuh pemimpin yang jujur, adil, cerdas, amanah. Bangsa ini butuh pemimpin yang memiliki jiwa pengabdian dengan sebuah tekad : Apa yang dapat kuberikan untuk Negara ini, dan bukan pemimpin yang mempunyai tekad : Apa yang dapat menguntungkan aku dari negeri ini. Siapa calon pemimpin yang demikian? Kayaknya semuanya pembual. (Ambigtar)
