Yayasan Uswah

Yayasan Uswah Sidoarjo

Jun

12

ISTIGHFAR II

By admin

ULAMA SALAF & ISTIGHFAR

Abu Musa berkata,’Kami mempunyai dua pengaman dari azab. Yang pertama telah tiada., yaitu keberadaan Rasulullah saw di tengah-tengah kami dan tinggallah istighfar bersama kami. Maka jika ia ikut lenyap, kami pasti binasa’. (At-Taubah ilallah al-Ghazali).
Rabi’ bin Khutsaim berkata, ‘Memohonlah dengan sungguh-sungguh kepada Rabb kalian dan berdoalah kepada-Nya di saat lapang. Sebab, Allah berfirman, ‘Barangsiapa berdoa kepada-Ku di saat lapang, Aku akan mengabulkan doanya di saat sempit. Barangsiapa meminta kepada-ku, maka Aku akan memberinya, barangsiapa tawadhu’ (merendahkan diri) kepada-Ku, Aku akan mengangkatnya. Barangsiapa mengabdikan dirinya untuk-Ku, Aku akan merahmatinya. Dan barangsiapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.’ (Minhajush shalihin : 951)
Sahl pernah ditanya mengenai istighfar yang dapat menghapuskan dosa-dosa. Ia pun menjawab, ‘Istighfar yang pertama al-istijabah, kemudian al-inabah, lalu at-taubah. Al-Istijabah ialah amalan-amalan anggota badan, al-inabah ialah amalan-amalan hati, dan at-taubah ialah kedatangannya kepada Tuhannya dengan meninggalkan makhluk, lantas meminta ampunan kepada Allah lantaran sikap meremehkan yang ada pada dirinya. (At-taubah ilallah Al-Ghazali).
Ibnul Jauzi menuturkan, ‘Sesungguhnya iblis berkata : aku membinasakan anak Adam dengan dosa-dosa. Mereka membinasakanku dengan istighfar dan dengan kalimah La ilaha illallah. Maka ketika aku melihat di antara mereka seperti itu, aku pun menelusupkan pada diri mereka hawa nafsu. Sehingga mereka berdosa dan tidak memohon ampun karena menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.’ (Miftahu Daris Sa’adah, Ibnul Qayyim).
Qatadah berkata, ‘Sesungguhnya Al-Qur`an itu menunjukkan kepada kalian akan penyakit dan obat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa, sementara obat kalian ialah istighfar.’ Ali –karramallahu wajhah – berkata, ‘Ujub ialah sesuatu yang membinasakan. Akan tetapi, bersamanya ada sesuatu yang menyelamatkan.’ Beliau ditanya, apakah itu? Beliau menjawab, “Istighfar”. Beliau juga berkata, ‘Tidaklah Allah mengilhamkan seorang hamba untuk beristighfar dan Dia ingin mengadzabnya.’
Seorang yang saleh berkata, ‘Seorang hamba berada di antara dosa dan nikmat. Tidak ada yang memperbaiki keduanya, kecuali pujian (al-hamdu) dan istighfar.’ Diriwayatkan bahwa Lukman al-Hakim berkata kepada putranya, ‘Wahai putraku, sesungguhnya Allah memiliki waktu-waktu yang di dalamnya Dia tidak menolak seorang pun yang meminta. Maka perbanyaklah beristighfar.’ Aisyah berkata, ‘Beruntunglah orang yang mendapati dalam lembar catatannya istighfar yang banyak.’ Abu al-Minhal berkata, ‘Tidaklah seseorang itu bertetangga di dalam kuburnya dengan tetangga yang lebih ia cintai daripada istighfar.’ Hasan al-Basri berkata, ‘Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah kalian, di meja-meja makan kalian, di pasar-pasar kalian, di jalan-jalan kalian, dan di majlis-majlis kalian! Sebab kalian tidak tahu kapan ampunan akan turun.’
Salah seorang Badui berkata, ‘Barangsiapa yang ingin bertetangga dengan kami di negeri kami, maka hendaknya ia memperbanyak beristighfar. Karena istighfar itu adalah awan yang banyak meneteskan air hujan.’ Bakr bin Abdullah al-Muzni berkata, ‘Kalian banyak melakukan dosa-dosa. Maka perbanyaklah istighfar. Sebab, jika seseorang mendapati di antara dua baris dalam lembar catatannya satu istighfar, ia akan dibuat gembira oleh kondisi ini.’
Ibnu Taimiyyah berkata, Sungguh pikiranku sedang tertuju pada sebuah masalah dan persoalan atau keadaan yang masih samar bagiku. Kemudian aku beristighfar kepada Allah seribu kali, sehingga hatiku menjadi gembira dan menjadi jelaslah kesulitan yang sebelumnya samar bagiku. Tatkala aku berada di pasar, masjid, jalan, madrasah dan seterusnya, hal itu tidak menghalangiki dari berzdikir dan beristighfar sampai kudapatkan apa yang kucari.’

SAYYIDUL ISTIGHFAR

Syadad bin Aus ra meriwayatkan bahwa nabi bersabda, sayyidul istighfar ialah ucapan seorang hamba : “Ya Allah, Engkau ialah Rabbku, tidak ada ilah(yang berhak disembah) selain Engkau. Engkaulah yang telah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku selalu berada di atas janji kepada-Mu dan meyakini janji-Mu, sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan amal yang aku perbuat. Aku mengakui segala nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku, dan aku akui juga dosa-dosaku. Maka ampunilah aku. Sebab, Tiada yang bisa mengampuni dosa-dosa selain Engkau.”
Siapa yang mengucapkannya pada pagi hari dengan penuh keyakinan terhadapnya, lalu ia meninggal dunia pada hari itu sebelum sore tiba, maka ia termasuk penduduk sorga. Dan siapa yang mengucapkannya di malam hari dengan penuh keyakinan terhadapnya, lalu ia meninggal dunia sebelum pagi tiba, maka ia termasuk penduduk sorga. (Achmad Muhammad, medio Juni 2011).
Nabi menamakan doa ini dengan ‘sayyidul istighfar’ (pemimpin istighfar). Istighfar memiliki shighah yang lain, hanya saja, Nabi mengkhususkan shighah istimewa ini –sayyidul istighfar-. Karena itu dengan melihat makna-makna agung yang dikandung oleh kalimat istighfar ini, Nabi pun menamainya dengan ‘sayyidul istighfar’. (Achmad Muhammad Medio Juni 2011).

Jun

12

ISTIGHFAR

By admin

ISTIGHFAR PENDATANG REZEKI

Istighfar termasuk salah satu dari sekian sebab terpenting dan terbesar datangnya rezeki – dengan karunia Allah. Allah berfirman mengisahkan Nabi Nuh as : “Maka Aku katakan kepada mereka,’Mohonlah ampun kepada Rabbmu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai’” (QS.Nuh: 10-12).

Read more »

Apr

20

MAKKAH AL-MUKARRAMAH

By admin

DI KOTA SUCI MEKAH

Dengan start masjid BIr Ali atau Dzulhulaifah, semua jamaah umrah memakai pakaian ihram serba putih, ada yang mandi ihram dan ada yang cukup berwudhu saja di masjid ini, kemudian menjalankan salat sunnah ihram 2 rakaat dan berdoa. Karena banyak jamaah dari berbagai penjuru negeri yang semuanya bermiqat di sini Bir Ali, terkadang kita merasa kesulitan juga mencari teman se jamaah untuk kembali ke bis, untuk itulah kemudian guide dan tour leader selalu memantau jamaah masing-masing agar tidak tersesat jalan, walau pun toh cuma dari tempat parker bis menuju musalla Dzulhulaifah, karena kendaraan bis yang rata-rata mencapai 40-50 bis. Setelah selesai salat, jamaah biasanya diajak lagi niat bersama-sama dengan dipimpin guide masing-masing, dan sejak itulah seluruh larangan dalam berihram berlaku, dan memperbanyak bacaan talbiyah.

Dari Bir Ali ke Mekah menempuh jarak jauh sekitar 470 km. Jalannya tall, sambil membaca talbiyah kita dapat menikmati pemandangan di kanan kiri jalan yang boleh dikatakan secara menyeluruh berwujud padang dan gunung bebatuan. Jarang sekali ditemui perkampungan penduduk, yang ada hanyalah rumah-rumah kecil sebagai pos penjagaan kebun kurma atau binatang ternak baik kambing mau pun unta. Ada juga rumah makan yang dilengkapi dengan musalla, toilet, dan tempat berwudhu; serta makanan ringan atau terkadang memang disediakan aneka makanan dan minuman serta buah-buahan. Bentuk dan model rumah makan yang ada di sepanjang jalanan ini memang sebagian besar sengaja lokasinya luas dan nyaman, dan dilengkapi dengan meja kursi makan, atau juga petak-petak ruang makan secara lesehan. Sebagian besar perjalanan jauh ini rata- rata ditempuh selama 5-6 jam, dan memilih waktu sore dan malam hari, sehingga tiba di tujuan biasanya antara jam 21.00 hingga 22.00 malam atau tengah malam. Hal ini dikehendaki suhu udara nyaman dan tidak panas, walau toh bis juga ber ac. Pada umumnya hanya sekali berhenti istirahat, dengan telah mendapatkan bagian roti dan minuman.

Perjalananku kali ini istirahat sekali saat sesudah maghrib menjelang isyak, namun jamaah telah kuperintahkan niat jamak ta`khir di masjid al-haram. Ternyata mereka ada yang beli martabak 4 real harganya. Ada juga yang beli minuman, buah, roti dan lain-lain. Setelah cukup istirahatt di situ, perjalanan diteruskan menuju Mekah, dan Alhamdulillah jam 22.00 wsa kami sudah nyampai di hotel. Pembagian kamar sudah selesai berikut koper dan semua bawaan tuntas, dan penatpun sudah berkurang, kami berjalan bersama menuju masjid al-haram. Hotel kami dekat dekat masjid, dan masjid sudah Nampak jelas dari depan hotel, apalagi jamnya yang terbesar sedunia itu, nyolok sekali. Tak lama kami pun sampai di masjid, dan melaksanakan salat jamaah maghrib dan isyak jamak ta`khir. Selesai berdoa kita menghadap ke ka’bah dan doa bersama : “Allahu akbar 3x, lailaha illallah 3x, wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai`in qadir…aku berlindung kepada Tuhan ka’bah dari kufur, fekir, siksa kubur dan cupet nalar. Ya Allah tambahkan atas baitullah kemuliaan, kekeramatan, keagungan, keunggulan, kewibawaan, dan kebajikan; demikian pula tambahkan kepada kami yang berhaji dan umrah dalam rangka memuliakan dan mengagungkan-Mu dalam beribadah, dengan kemuliaan, kekeramatan, keagungan, keunggulan, kewibawaan dan kebajikan. Mudah-mudahan rahmat dan keselamatan tetap Engkau limpahkan kepada Nabi Muhammad saw junjunganku”.

Dengan membaca talbiyah, kami mendekat arah ka’bah berjalan kearah lurus hajar aswad, dan di sinilah kami memulai menunaikan tawaf putaran pertama. Tangan kanan tabik mengarah ka’bah kemudian dicium atau dikecup, lantas berjalan dengan ka’bah berada di sebelah kiri, kami tiada henti bertasbih bertahmid bertakbir dan bertahlil. Kami berdoa memohon keimanan yang benar, berpegang teguh kepada kitab suci al-Qur`an, memohon selamat sehat wal afiat sepanjang masa dunia akhirat, juga memohon ampunan atas segala dosa-dosa yang kami lakukan. Ketika tepat arah rukun (sudut) yamani kami melambaikan tangan kanan dan membaca basmalah dan takbir lalu berdoa sapu jagad serta mohon ampunan serta masuk sorga. Tiba di arah rukun hajar aswad kita tabik lagi dicium atau dikecup, dan berdoa lagi sebagai putaran kedua, hingga 7 kali putaran. Bagi jamaah laki-laki disunnahkan raml (lari-lari kecil) pada putaran 1 hingga 3, kemudian seterusnya jalan biasa.

Usai tawaf, kami bersama-sama berdoa di multazam dan menuju arah belakang maqam Ibrahim untuk melakukan salat sunnah tawaf 2 rakaat dan berdoa. Kemudian kami minum zamzam secukupnya sambil istirahat sebentar. Setelah dirasa lelah berkurang, kami men uju mas’a atau tempat sa’I yakni bukit Shafa dan Marwa. Ketika sudah berada di bukit Shafa kami memulai sa’I dengan bertakbir menghadap ka’bah, lalu berjalan menuju bukit Marwa sambil bertasbih bertahmid bertahlil serta berdoa. Bila sampai di lampu hijau, kami yang laki-laki berlari-lari kecil dengan berdoa sampai tiba di lampu hijau setelahnya, namun bagi wanita cukup jalan biasa saja. Setelah tiba di Marwa, artinya kita telah melakukan sa’I satu kali, dan berjalan dari bukit Marwa ke bukit Shafa dihitung ke-2, dan begitu seterusnya sampi sa’I yang ke-7 berhenti di bukit Marwa. Kemudian kita berdoa semoga ibadah kita diterima Allah swt, dan kita dijadikan hamba-hambaNya yang shalih-shalihah, menjadi hamba yang khusnul khatimah. Setelah berdoa melaksanakan tahallul, yakni menggunting minimal 3 helai rambut yang dilakukan oleh mereka yang dalam keadaan sudah tahallul. Jika pengguntingan rambut itu oleh yang berihram, maka tidak sah.

Alhamdulillah jam 3.00 wsa tengah malam umrah kami sudah selesai semua, namun ternyata ada yang kembali ke hotel, tetapi ada pula yang sekalian menunggu waktu subuh. Boleh dikatakan mulai berangkat dari Madinah sejak dhuhur hingga menjelang pagi itu di masjid al-haram Mekah tidak berhenti sama sekali. Usai salat subuh kami makan pagi sarapan, dan kemudian masuk kamar masing-masing untuk istirahat total. Saat dhuhur tiba, kami semua telah siap lagi salat jamaah di masjid al-haram yang menburut sabda Nabi, bahwa salat sekali di masjid al-haram jauh lebih baik disbanding salat 100.000 x di masjid lain didunia iani keculai masjid Nabawi dan masjid al-Aqsha. Allahu akbar walillahil hamd. Ya Rahman, jadikanlan kami hambaMu yang ikhlas dal;am kehidupan ini. (Al-Haram 11 April 2011).

Apr

20

BRUNEI DAR AL-SALAM

By admin

CITY TOUR BRUNEI

Perjalanan umrah bulan April 2011 bersama USWAH & Diva Wisata ternyata asyik juga. Kamis pagi subuh 31 Maret 2011 kami telah berkumpul di Bandara Juanda. Dengan seragam batik dan kalung identitas warna merah beserta pasfoto yang Nampak keren, kami mendapat pengarahan perjalanan dan menerima pembagian buku-buku serta tiket ke Brunei Darussalam. Maklum, memang kita direncanakan menginap satu malam di Treds Hotel Brunei. Pukul 06.30 wib dengan BI 796T kami telah take off meninggalkan Juanda menuju Bandara Sri Begawan Internasional Airport, dan pukul 09.40 waktu Brunei atau 08.40 wib kami telah landing di tanah Darussalam.
Setelah kami bersama jalan ke serambi bandara, penjemput sudah ada dan kamipun naik bis pelancong mengarah ke hotel, check ini Hotel Treds Brunei, 17 kamar kami peroleh dan masing-masing kamar berdua, hanya satu yang sendirian , yakni pak Amari dari Lamongan. Umumnya enak dan bebas jika dalam kamar sendirian, ternyata bagi pak Amari malah tersiksa, maklum orang udah tua, maunya ada yang menemani. Usai salat dzuhur, kami makan prasmanan di depot seberang hotel, kemudian dilanjutkan perjalanan city tour mengelilingi kota Brunei. Tujuan awal ke masjid yang berkubah emas, masjid Sultan Hasan Bulkiah, sebuah masjid antik dan megah dengan halaman parker yang cukup luas serta taman-tamannya yang indah menawan. Kemudian menuju istana Nurul Iman dengan kubah-kubahnya yang berlapiskan emas, Nampak dari kejauhan di pinggir pantai, dengan rindangnya pepohonan, begitu Nampak asri dan damai. Lalu menuju ke perkampungan air dengan perahu motor yang hilir mudik dengan penumpangnya. Di seluruh Brunei keadaannya aman dan tenang, rakyatnya Nampak banyak bersyukur punya negeri kecil namun sejahtera, hormat pada rajanya yang senantiasa amat peduli kepada semua rakyatnya. Kemudian menjelajah masuk museum yang terawat dan tertata tertib rapi dan asri. Berbagai hal nampak dilaporkan dan diperhatikan oleh raja, apapun bentuk dan modelnya tentang apa saja milik kerajaan dan juga berbagai hadiah dari berbagai Negara internasional. Juga foto-foto peristiwa dalam penyelenggaraan kerajaan, dan tidak ketinggalan Indonesia terutama di zaman Pak Harto jadi presiden banyak sekali kenangan bersama Sultan Hasan Bolkiah. Selanjutnya menyusuri jalan dengan berbagai masjid yang indah dan pasar serta mall. Brunei dengan 400.000 jiwa dan luas sekitar 5000 km persegi. Kecil namun sejahtera penuh kedamaian, rakyat bangga dengan negaranya dan banyak bersyukur.
Ketika masuk mall, di antara kami ada yang tukar uang dollar Brunei atau ringgit, dan Rp 7.300,- nilainya sama dengan 1 dolar Brunei. Nah, akhirnya lihat-lihat pakaian, ketemu kaos oblong dan bertanya berapa harganya, aih betapa mahalnya 15 dolar kata penjualnya. Ketahuilah bahwa kaos oblong itu jika di Surabaya harganya sekitar Rp 15.000,-, alangkah murahnya harga-harga di In donesia. Nasi pecel saja masih ada yang harganya rp 2.500,-, di Brunei jika kita mau makan paling tidak 7-8 dolar, dan kalau dikruskan rupiah sama halnya dengan kurang lebih Rp 50.000,- . Alhamdulillah, Indonesia negeri yang subur makmur murah sandang pangan ora kjurang papan panggonan. Sayangnya, pejabatnya banyak yang korup, semoga mereka cepat disadarkan Tuhan.
Setelah penat, waktu sudah menjelang terbenam matahari, lalu kami semua naik bis pelancong menyusuri jalan sambil banyak cerita dari pemandu, dan akhirnya acara makan malam. Semua rombongan Nampak lahap dalam makan yang disuguhkan. Sistemnya prasmanan, dan asyiknya semua makanan rata-ta terasa masakan khas Jawa, dan nyatanya memang dua depot yang kita kunjungi adalah berasal dari Jawa Tengah yang telah menjadi warganegara Brunei. Banyak pekerja dari Indonesia yang ada di Brunei ini. Sopir bis penjemput ke hotel berasal dari Madiun seorang muslim, pemilik depot dari Rembang dan Cilacap yang muslim dua-duanya. Bahasa mereka nampak sekali indonesianya. Setelah selesai kami naik bis menuju hotel kembali, dan saling berterima kasih dengan pemandu, yang ternyata berasal dari Serawak beragama Nasrani dengan sopir bis pelancong dari Pilipina yang juga Nasrani.
Tiba di hotel, melaksanakan salat maghrib dan isyak jamak taqdim, dan istirahat. Pagi hariusai salat subuh, kami semua berkumpul di loby hotel, mendapat pengarahan dari Tour Leader, kemudian makan pagi ala Amerika, asyik juga. Roti bakar, telor ceplok, kacang merah dan minum teh manis panas. Jam 8.30 waktu Brunei kami check out hotel menuju bandara Sri Begawan. Tiba di bandara, kami lakukan bodingpass dan terus menuju pintu-pintu masuk pesawat. Bagasi kami telah berada di pesawat dan direncana memang bertemu di KAA Jeddah. Alhamdulillah, tepat pukul 11.15 waktu Brunei kami take off menuju Jeddah, dengan pesawat BI 81T perjalanan selama 9-10 jam, dan Alhamdulillah selamat landing di KAA jam 16.15 wsa. Kami semua diperiksa paspor dan ngambil koper masing-masing, dan keluar bandara ke ruang tunggu. Ternyata maghrib sudahtiba, akhirnya kami melakuklan salat magrib isyak jamak taqdim qasar. Selanjutnya dengan bis menuju Madinatul Munawwarah, dan dalam bis makan nasi kotak ikan temped an ayam goring pakai lalapan dan sambal, aih terasa nyaman ongguhan lik. Sampai jumpa. (Brunei 1-4-2011).

Apr

20

MADINAH AL-MUNAWWARAH

By admin

DI MADINAH

Dari King Abdul Aziz ke Madinah menempuh perjalanan 5 jam dengan jarak jauh 478 km. Tengah malam kami nyampai di Wassel Suite hotel di sudut masjid Nabawi sebelah barat pintu 15C, dan saya sendiri bertiga dengan Mahfudi guide dan pak Amari di hotel Mawaddah belakangnya. Setelah menata kamar yang doble triple dan quard, jam sudah menunjuk angka 3 malam wsa, atau artinya jam 7 pagi wib. Praktis kami sehari semalam nggak tidur, sebab 2 jam lagi sudah masuk waktu subuh. Alhamdulillah kami semua dapat anugerah sehat wal afiat dan selamat. Usai salat subuh, kami makan pagi, lalu jalan-jalan mengelilingi masjid Nabawi, ziarah makam Nabi, memberi salam kepada nabi, juga makam Baqi’, dan tak ketinggalan singgah ke masjid Ghumamah, masjid Abu bakar dan masjid Ali.

Ibu-ibu amat sangat aktif berbelanja, terasa murah harga-harga di sini katanya. Sajadah 15 real, jilbab 5 real, kopyah haji 2 real, jam tangan 10 real, berbagai macam baju 10-15 real, kurma ajwa 80 real, kurma coklat 40 real, rata-rata kurma 15-20 real, minuman rata 2 real, menyenangkan. Mainan anak-anak rata-rata 10 real macam apa saja. Soal makan sudah cukup-cukup, sarapan, makan siang dan makan malam. Kayaknya kalau mau jajan, ya memang kuat makan kayaknya. Semua jamaah telah ke raudhah, bahkan pak Amari masuk perpustakaan masjid Nabawi, gayanya kayak pinter baca kitab gundul, tetapi nggak tahunya yang diamati gambar-gambar peta perjalanan hijrah Rasulullah saw ke Madinah bersama sahabat Muhajirin. Pak Amari cuma geleng-geleng kepala melihat buku yang begitu banyak dalam ruang yang begitu luas ditambah amat tenang jika mau baca. Kami senantiasa menjaga salat jamaah setiap waktu di masjid nabawi, pahalanya 1000 kali lipat lebih baik dibandingkan dengan di tempat lainnya, kecuali masjid al-Haram Mekah dan masjid Baitul Muqaddas di Yerusalem Palestina. Usai jamaah isyak, kami ke hotel dan makan malam.

Malam mini kami dapat tidur dengan waktu yang cukup, jam 2 gtengah malam sudah bangun, lalu telentang lagi, jam 3.30 wsa kami meluncur ke masjid untuk qiyamullail. Alhamdulillah, walau nggak di raudhah, kami dapat qiyamullail di Dagag, yakni tempat darussuffah dengan lantainya yang lebih tinggi 60 cm dibanding lantai lainnya. Dagag tidak luas, kurang lebih 100 meter persegi, tempat ini adalah tempat para kaum dhuafa` yang ditanggung rasulullah saw. Ada 79 dhuafa` atas tanggungan beliau rasulullah saw, di bawa kepala asrama sahabat Abu Hurairah ra. Di sinilah mereka ibadah dan lain-lain, sehingga tempat ini juga diperebutkan orang untuk melakukan salat lail.

Setelah bubar jamaah subuh,kami pamitan rasulullah saw dan terus jalan pulang, ternyata ada jamaah dari Malaysia berasal dari Perak tersesat jalan. Risau sekali namp[aknya ibu ini,karena tersesat jalan sendirian, sedangkan di hari itu pula dia harus menuju Mekah al-Mukarramah. Ibu ini akhirtnya aku antarkan ke hotelnya yang ketepatan saya juga tahu tempat itu. Hotel dia di timur masjid, sedangkan ibu ini tersesat di pojok sebelah barat masjid, jadi benar-benar nggak tahu arah jalan pulang. Betapa bahagianya dia, setelah bertemu temannya di dekat Baqi’ yang memang menuju kearah hotelnya, dan dipapag pemandunya, ia pun berulang-ulang terima kasih, dan berdoa semoga Allah swt yang membal;asnya atas kebaikan yang kami lakukan. Saya dan pak Amari, menuju pulang dan sarapan pagi hari.

Pagi ini ada yang ke Quba`, wudhu dari hotel menuju Quba`, salat 2 rakaat di masjid Quba`, kembali ke masjid Nabi, oih pahalanya sama dengan umrah. Ada yang berulang kali melakukannya, sedangkan ibu-ibu pagi ini mau ke Raudhah yang kesekian kalinya. Insya Allah waktu dhuha lebih longggar daripada lainnya. Sedangkan bapak-bapak secara mandiri menjalankan itu semua sesuai dengan mau mereka masing-masing. Pak Amari dari Lamongan saya ajak keliling masjid Nabawi dengan kuberitahu tentang mihrab Usman, mihrab Abdul Majid, mihrab Nabi, Raudhah, Dagag (Darussuffah), perpustakaan masjid Nabawi, posisi kamam Nabi, makam Abu Bakar dan makam Umar bin Khottob. Saat di Raudhah kami salam kepada nabi dan salat dua rakaat kemudian I’tikaf dan banyak berdoa serta beristighfar. Dua kali kami lakukan yang demikian dan kami dapat salat berjamaah isyak, dan yang sebelumnya jamaah salat maghrib. Setelah cukup kami keluar dari Raudhah dan berjajar untuk memberi salam kepada Rasulullah saw.

Masjid Nabawi halamannya dipenuhi lampu dengan payung yang setiap hari dibuka payungnya dan di malam harinya ditutup kembali. Dengan pagar keliling dan dilengkapi toilet laki-laki dan perempuan di sekeliling halaman masjid dengan model tingkat 6 ke bawah masuk dalam tanah, dan juga di kelilingi tempat parkir bawah tanah dengan tingkat yang sama. Kemudian sekitar masjid dikelilingi bangunan hotel dan di bawahnya pasar swalayan bertingkat bawah tanah. Cahaya lampu di berbagai penjuru nampak sangat terang layaknya pagi hari yang terang benderang. Setiap habis jamaah salat maktubah, para penjaja berbagai barang jualan banyak sekali, rata-rata harganya 5 – 10 real. Mulai dari mainan anak-anak, gelang, cincin, baju, jilbab, jam tangan, sepatu, sandal, kain lembaran, serban, tasbih, siwak, kopyah putih dengan berbagai ragamnya, dan lain-lain. Namun yang utama adalah, waktu salat mereka benar-benar tepat waktu, para pedagang, mukimin dan musafirin selalu nampak berbondong-bondong menghadiri salat jamaah di masjid Nabawi. Begitu juga laiknya yang jauh dari masjid Nabawi, mereka juga mengikuti jamaah salat di masjid-masjid dekat tempat tinggal mereka.

Selama di kota suci Nabi, sungguh tak terpikir lagi tentang hari dan kerja, yang selalu muncul dalam pikiran dan kegiatan nyata hanyalah salat berjamaah di masjid Nabi, bersalam kepada Nabi, baca al-Qur`an, berdoa, atau baca buku. Barangkali teman-teman lain ada yang tak henti-hentinya belanja atau jalan-jalan ke berbagai swalayan atau toko emas perhiasan. Sudah barang tentu jatah makan pagi usai salat subuh, makan siang usai salat dzuhur dan makan malam usai salat isya` mesti disiplin kita laksanakan. Benar-benar makan dengan sehat lima sempurna. City Tour diadakan juga di kota Nabi ini, yakni ziarah ke masjid Quba`, masjid Qiblatain, masjid Khandaq atau masjid Sab’ah, jabal Uhud dan makam syuhada` Uhud serta masjidnya, dan juga ke perkebunan kurma dan pembudidayaannya dengan mencicipi gratis sepuasnya. Lima hari kami di sisni, dan pamit rasul kemudian bersiap ke Makkah dengan berpakaian ihram untuk menunaikan umrah dengan miqat masjid Bir Ali atau Dzul Hulaifah. Semoga kita dapat kembali lagi ziarah masjid Nabi yang indah menawan dan makam Nabi Muhammad saw di Madinah al-Munawwarah. (Al-Munawwarah 9-4-2011).

Apr

20

MASJID AL-HARAM

By admin

MAKKAH AL-MUKARRAMAH

Saat ini, April 2011 masjid al-haram semakin indah antik dan menawan. Masjid yang tak memiliki bentuk bangunan yang tertentu, tak pernah berhenti memoles diri setiap hari dan setiap waktu. Dulu, ketika aku datang ke sini pertama kali, di tahun 1994 saat haji pertamaku, sungguh amat jauh berbeda. Ketika aku melihat masjid saat itu betapa anggun berwibawanya sebuah baitullah dikelilingi berbagai bentuk bangunan sekenanya, pasar tradisional apa adanya, orang lalu lalang semaunya, berbelanja, jual beli, rumah makan, jual makanan dan minuman semrawut tak karuan model bentuk dan posisinya. Orang makan sambil berdiri, duduk, jalan, jongkok atau apa sajalah semaunya dengan bebas nilai; sungguh pemandangan yang tak perduli. Suara deru mobil, bis-bis didekat halaman masjid, baik sebelah timur, barat, utara dan selatan hilir mudik tak karuwan sebuah hal yang biasa-biasa saja. Pendek kata saat tahun 1994, sekitar masjid al-haram dikelilingi segala macam kegiatan keperluan ibadah dan kehidupan keseharian semua jamaah dalam segala urusan. Wow, benar-benar tempat yang tiada pernah istirahat dalam segala hal dan keperluan. Kini, April 2011 masjid al-haram tampil beda.

Tahun ini, seluruh pasar dan bangunan yang mengitari masjid al-haram telah dimusnahkan habis, sehingga masjid Rayah atau majid Kucing dan pasar seng serta seluruh bangunannya telah dihilangkan jadi bersih, sehingga masjid dan Ka’bah baitullah dilembah Hijaz itu nampak jelas dengan pelataran yang luas dengan jam terbesar sealam dunia. Gunung Qaiqa’an nampak membentang di sebelah barat daya masjid al-haram, yang sebelumnya terhalang bangunan pasar dan gedung-gedung yang tak beraturan. Demikian pula di sebelah timur, jabal Qubaisy yang telah dimodifikasi jadi terminal bis dan terowongan menuju Aziziyah serta ditempati bangunan istana kerajaan. Pelataran masjid sebelah timur luas, ditambah lagi pelataran masjid sebelah utara dengan hamparan panjang dan luas yang sebelumnya adalah pasar dan ujung paling utara masjid Rayah atau masjid Kucing yang sudah dimusnahkan. Masjid al-haram yang sebelah utara dapat dimasuki melalui beberapa pintu yang luas, yakni apabila lewat pelataran timur bisa masuk lantai bawah tanah lokasi sa’I paling bawah terus menuju lantai satu untuk melakukan tawaf, atau bisa juga masuk jisir Babussalam terus masuk lantai satu menuju lokasi tawaf. Apabila lewat pelataran timur laut dengan hamparan pelataran yang luas, bisa masuk lokasi sa’I di lantai satu, atau masuk lokasi sa’I lantai dua lewat jembatan di atas kamar toilet pria dan wanita. Sedangkan apabila dari arah utara bisa lurus masuk masjid kea rah lokasi sa’I lantai empat.
Adapun memasuki masjid al-haram dari arah selatan sebagai pintu utama atau halaman depan pintu King Abdul Aziz dengan pelataran yang luas pula tetapi tidak seluas pelataran sebelah utara, masjid semakin nampak bersih sebab seluruh bangunan di sebelah selatan masjid dan sebelah barat masjid telah dimusnahkan semua, yang tinggal adalah bangunan disebelah tenggara yakni hotel Hilton, Dar al-Tauhid, bin Dawood dan bangunan baru dengan jam terbesar di dunia tersebut. Dari arah ini juga di sediakan pintu-pintu masuk keberbagai lantai masjid, baik ke lantai bawah tanah, lantai satu, lantai dua, lantai tiga, lantai empat masjid al-haram. Demikian pula dari arah barat, jamaah akan leluasa mamasuki masjid dari berbagai pintu yang dikehendaki. Kini ka’bah baitullah dan masjid al-haram benar-benar menjadi bangunan satu-satunya di lembah Hijaz dengan dikelilingi gunung dan terlihat paling bawah posisinya, di samping masih ada gedung-gedung bertingkat yang mengelilinginya namun agak jauh, sehingga masjid al-haram yang tanpa memiliki bentuk bangunan tertentu itu kelihatan lebih antik, lebih menarik dan penuh keagungan.
Lokasi pelataran ka’bah sebagai tempat tawaf yang utama benar-benar tanpa penghalang, Cuma ada maqam Ibrahim saja. Meski demikian jamaah yang bertawaf siang malam tiada henti dan selalu saja memenuhi pelataran tersebut. Hal yang demikian ini, masih banyak juga jamaah yang melaksanakan tawaf di lantai dua, lantai tiga dan lantai empat. Bagi mereka yang menggunakan kursi roda, telah disediakan lokasi yang lebih luas dan memadai, apalagi setelah adanya perluasan mas’a (tempat sa’i). Untuk lokasi parker mobil berada dibawah tanah, sehingga bagi para jamaah yang membawa mobil dapat dengan leluasa menempatkan mobilnya diparkiran bawah tanah tersebut. Sekeliling bagian dalam bangunan masjid al-haram telah disediakan kran-kran air zam-zam untuk diminum, di samping diberbagai tempat juga di tempatkan drum-drum air zam-zam untuk diminum. Air zam-zam adalah mukjizat, semakin banyak yang meminumnya bertambah besar saja sumber airnya. Hal yang demikian ini adalah berkah rahmat Allah swt. Air zam-zam juga mengenyangkan, sebab Nabi bersabda bahwa air zam-zam itu minuman juga makanan, air zam-zam juga obat bagi segala macam penyakit.
Setiap saat Allah swt melimpahkan 120 rahmat di masjid al-haram, 60 rahmat bagi mereka yang tawaf, 40 rahmat bagi mereka yang salat atau baca al-Qur`an atau yang berdzikir, 20 bagi mereka yang melihat ka’bah. Ibadah salat di masjid al-haram jauh lebih baik dibandingkan ibadah salat seratus ribu kali di tempat lain, selain masjid Nabawi dan masjid al-Aqsha. Dimasjid al-haram, ketika kita melihat mereka yang tawaf, sa’i, dzikir, baca qur`an dan lain-lain kita sunnah berdoa: “allahummaj’al li biha qarara warzuqni fiha rizqan halala” (Ya Allah, jadikanlah aku seperti mereka, dan berikan aku rizqi yang halal untuk yang demikian itu). Demikian pula saat kita melihat ka’bah, kita sunnah berdoa: “Allahumma inni a’udzu birabbil bait minal kufri wal faqri wa a’udzu bika min ‘adzabil qabri wa dliqis shadr” (Aku berlindung kepada Tuhan Ka’bah dari kufur dan feqir, dan aku berlindung kepadaMu ya Allah dari siksa kubur dan sempitnya pikir/nalar/dada), yang didahului dengan takbir dan dzikir kepada Allah swt.
Semua kegiatan ibadah dalam masjid al-haram, benar-benar membawa faedah sempurna selamat dunia akhirat, faedah sehat rohani sehat jasmani dan sehat rizqi, berdoa kepada Allah dalam keadaan apa saja diperkenankan oleh Allah swt. Bagi yang tawaf wajib dalam keadaan suci, bagi yang sa’I boleh saja dalam keadaan batal alias tidak suci dari hadas kecil maupun besar, demikian pula pada ibadah-ibadah yang lainnya, ada yang harus suci dan ada yang boleh dalam keadaan berhadas. Para hamba semuanya berdoa kepada Allah, ada yang dengan menangis, berdiri, duduk, terlentang, berjalan-jalan, berlari-lari, sujud, rukuk, menengadah, mengangkat tangan, melambaikan tangan, bersedekap, sambil bercakap, saling mengingatkan, saling menasehati, dan pendek kata segala macam tingkah dan model prilaku, namun kesemuanya adalah fokus berdoa kepada Allah swt. Mereka para hamba berdoa dengan berbagai cara mereka yang aneka macamnya, semua itu sah-sah saja dan boleh-boleh saja, namun hendaknya bagi kaum yang berilmu dalam berdoa hendaknya senantiasa berdoa sesuai dengan ilmu yang telah dimilikinya. Tetapi semuanya itu hendaknya dilakukan dengan hati yang ikhlas semata-mata hanya mengharapkan ridha Allah swt. (Achmad Muhammad 12-4-2011).

Mar

17

HIJRAH RASUL

By admin

HIJRAH RASUL
PENDUDUK YASRIB MENYAMBUT NABI
Berbondong-bondong penduduk Yasrib, laki-laki dan perempuan, keluar rumah hendak menyambut kedatangan Nabi Muhammad saw. Mereka berangkat setelah tersiar berita tent5ang hijrahnya, tentang Kuraisy yang hendak membunuhnya, tentang ketabahannya menempuh panas yang begitu membakar dalam perjalanan yang sangat meletihkan, mengarungi lautan pasir yang berbukit-bukit dan batu karang di tengah-tengah dataran Tihamah, yang justru memantulkan sinar matahari yang panas membakar.

Read more »

Mar

17

HIJRAH RASUL

By admin

HIJRAH RASUL
PENDUDUK YASRIB MENYAMBUT NABI
Berbondong-bondong penduduk Yasrib, laki-laki dan perempuan, keluar rumah hendak menyambut kedatangan Nabi Muhammad saw. Mereka berangkat setelah tersiar berita tent5ang hijrahnya, tentang Kuraisy yang hendak membunuhnya, tentang ketabahannya menempuh panas yang begitu membakar dalam perjalanan yang sangat meletihkan, mengarungi lautan pasir yang berbukit-bukit dan batu karang di tengah-tengah dataran Tihamah, yang justru memantulkan sinar matahari yang panas membakar. Mereka keluar karena terdorong ingin mengetahui sekitar berita tentang ajakannya yang sudah tersiar di seluruh Semenanjung. Ajakan ini juga yang sudah mengikis kepercayaan-kepercayaan lama yang diwarisi dari nenek-moyang mereka, yang sudah dianggap begitu suci.
Tetapi mereka keluar itu bukan disebabkan oleh dua alas an ini saja, melainkan lebih jauh lagi. Orang yang hijrah dari Mekah ini akan menetap di Yasrib. Setiap golongan, setiap kabilah dari penduduk Yasrib, dari segi politik dan social kesannya bermacam-macam. Inilah yang lebih banyak mendorong mereka menyongsong keluar, daripada sekedar ingin melihat orang ini. Juga mereka ingin tahu, benarkah itu memperkuat dugaan mereka, atau dapat saja yang sebaliknya.
Oleh karena itu, sambutan masyarakat musyrik dan Yahudi atas kedatangan Nabi tidak kurang semangatnya daripada sambutan kaum muslimin – Muhajirin dan Ansar. Mereka semua mengerumuninya. Sesuai perasaan yang berkecamuk dalam hati masing-masing terhadap pendatang baru orang besar ini, denyut jantung mereka pun tidak sama pula. Mereka sama-sama mengikutinya tatkala ia melepaskan kekang untanya dan membiarkannya berjalan sendiri, dengan agak kurang teratur karena masing-masing ingin memandang wajahnya. Semua ingin mengelilinginya dengan pandangan mata. Mereka ingin melihat sendiri orang yang telah membuat Ikrar Aqabah Kedua, bersama-sama penduduk kota ini yang telah membaiatnya – guna memerangi mati-matian terhadap Kuraisy. Orang ini yang telah hijrah meninggalkan tanah airnya, berpisah dengan keluarganya dengan memikul segala tekanan permusuhan dan tindakan kekerasan dari mereka selama tigabelas tahun terus-menerus. Ini semua dideritanya demi keyakinan tauhid kepada Allah, tauhid yang dasarnya adalah merenungkan alam semesta ini dan dengan jalan itu mengungkapkan hakekat yang ada.
KEBEBASAN BERAGAMA
Baik muslimin maupun yang lain seharusnya percaya, bahwa barangsiapa menerima pimpinan Allah dan sudah masuk ke dalam agama Allah, akan terlindung dari gangguan. Bagi orang yang sudah beriman akan bertambah kuat imannya, sedang bagi yang masih ragu-ragu, atau masih takut-takut atau yang lemah, akan segera pula menerima iman itu.
Pikiran itulah yang mula-mula meyakinkan Muhammad tinggal di Yasrib. Ke arah itu politiknya ditujukan dan dengan tujuan itu pula hendaknya sejarah hidupnya ditulis. Ia tak pernah memikirkan kerajaan, harta kekayaan atau perniagaan. Semua tujuannya untuk memberikan ketenangan jiwa bagi mereka yang menganut ajarannya, dengan jaminan kebebasan bagi mereka dalam menganut ajaran agama masing-masing. Bagi Muslim, Yahudi dan Nasrani masing-masing punya kebebasan yang sama dalam menganut kepercayaan, kebebasan yang sama menyatakan pendapat dan kebebasan yang sama pula menjalankan dakwah agama. Hanya kebebasanlah yang akan menjamin dunia ini mencapai kebenaran dan kemajuannya dalam menuju kesatuan yang integral dan terhormat. Setiap tindakan menentang kebebasan berarti memperkuat kebatilan, berarti menyebarkan kegelapan yang akhirnya akan mengikis habis percikan cahaya yang berkedip dalam hati nurani manusia. Percikan cahaya ini yang akan menghubungkan hati nurani manusia dengan alam semesta, dari awal hingga akhir zaman, suatu hubungan yang menjalin rasa kasih-sayang dan persatuan, bukan rasa kebencian dan kehancuran
MUHAMMAD SAW TIDAK MENGHENDAKI PERANG
Dengan pemikiran inilah wahyu itu disampaikan kepada Muhammad saw sejak ia hijrah. Dan karena itu pula ia sangat mendambakan perdamaian, dan tidak menyukai perang. Dalam hal ini selama hidupnya ia sangat cermat sekali. Ia tidak menempuh jalan itu, kalau tidak terpaksa karena membela kebebasan, membela agam dan kepercayaan. Bukankah ayat pertama yang datang mengenai perang berbunyi : “Kepada mereka yang diperangi, diizinkan (berperang), sebab mereka teraniaya; dan sungguh Allah Maha Kuasa menolong mereka” (QS. 22:39). Dan bukankah ayat berikutnya mengenai soal perang itu Allah berfirman : “Perangilah mereka sehingga tak ada lagi penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah” (QS. 2:193). (Disadur Achmad Muhammad dari Buku Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Heikal). HIJRAH RASUL
PENDUDUK YASRIB MENYAMBUT NABI
Berbondong-bondong penduduk Yasrib, laki-laki dan perempuan, keluar rumah hendak menyambut kedatangan Nabi Muhammad saw. Mereka berangkat setelah tersiar berita tent5ang hijrahnya, tentang Kuraisy yang hendak membunuhnya, tentang ketabahannya menempuh panas yang begitu membakar dalam perjalanan yang sangat meletihkan, mengarungi lautan pasir yang berbukit-bukit dan batu karang di tengah-tengah dataran Tihamah, yang justru memantulkan sinar matahari yang panas membakar. Mereka keluar karena terdorong ingin mengetahui sekitar berita tentang ajakannya yang sudah tersiar di seluruh Semenanjung. Ajakan ini juga yang sudah mengikis kepercayaan-kepercayaan lama yang diwarisi dari nenek-moyang mereka, yang sudah dianggap begitu suci.
Tetapi mereka keluar itu bukan disebabkan oleh dua alas an ini saja, melainkan lebih jauh lagi. Orang yang hijrah dari Mekah ini akan menetap di Yasrib. Setiap golongan, setiap kabilah dari penduduk Yasrib, dari segi politik dan social kesannya bermacam-macam. Inilah yang lebih banyak mendorong mereka menyongsong keluar, daripada sekedar ingin melihat orang ini. Juga mereka ingin tahu, benarkah itu memperkuat dugaan mereka, atau dapat saja yang sebaliknya.
Oleh karena itu, sambutan masyarakat musyrik dan Yahudi atas kedatangan Nabi tidak kurang semangatnya daripada sambutan kaum muslimin – Muhajirin dan Ansar. Mereka semua mengerumuninya. Sesuai perasaan yang berkecamuk dalam hati masing-masing terhadap pendatang baru orang besar ini, denyut jantung mereka pun tidak sama pula. Mereka sama-sama mengikutinya tatkala ia melepaskan kekang untanya dan membiarkannya berjalan sendiri, dengan agak kurang teratur karena masing-masing ingin memandang wajahnya. Semua ingin mengelilinginya dengan pandangan mata. Mereka ingin melihat sendiri orang yang telah membuat Ikrar Aqabah Kedua, bersama-sama penduduk kota ini yang telah membaiatnya – guna memerangi mati-matian terhadap Kuraisy. Orang ini yang telah hijrah meninggalkan tanah airnya, berpisah dengan keluarganya dengan memikul segala tekanan permusuhan dan tindakan kekerasan dari mereka selama tigabelas tahun terus-menerus. Ini semua dideritanya demi keyakinan tauhid kepada Allah, tauhid yang dasarnya adalah merenungkan alam semesta ini dan dengan jalan itu mengungkapkan hakekat yang ada.
KEBEBASAN BERAGAMA
Baik muslimin maupun yang lain seharusnya percaya, bahwa barangsiapa menerima pimpinan Allah dan sudah masuk ke dalam agama Allah, akan terlindung dari gangguan. Bagi orang yang sudah beriman akan bertambah kuat imannya, sedang bagi yang masih ragu-ragu, atau masih takut-takut atau yang lemah, akan segera pula menerima iman itu.
Pikiran itulah yang mula-mula meyakinkan Muhammad tinggal di Yasrib. Ke arah itu politiknya ditujukan dan dengan tujuan itu pula hendaknya sejarah hidupnya ditulis. Ia tak pernah memikirkan kerajaan, harta kekayaan atau perniagaan. Semua tujuannya untuk memberikan ketenangan jiwa bagi mereka yang menganut ajarannya, dengan jaminan kebebasan bagi mereka dalam menganut ajaran agama masing-masing. Bagi Muslim, Yahudi dan Nasrani masing-masing punya kebebasan yang sama dalam menganut kepercayaan, kebebasan yang sama menyatakan pendapat dan kebebasan yang sama pula menjalankan dakwah agama. Hanya kebebasanlah yang akan menjamin dunia ini mencapai kebenaran dan kemajuannya dalam menuju kesatuan yang integral dan terhormat. Setiap tindakan menentang kebebasan berarti memperkuat kebatilan, berarti menyebarkan kegelapan yang akhirnya akan mengikis habis percikan cahaya yang berkedip dalam hati nurani manusia. Percikan cahaya ini yang akan menghubungkan hati nurani manusia dengan alam semesta, dari awal hingga akhir zaman, suatu hubungan yang menjalin rasa kasih-sayang dan persatuan, bukan rasa kebencian dan kehancuran
MUHAMMAD SAW TIDAK MENGHENDAKI PERANG
Dengan pemikiran inilah wahyu itu disampaikan kepada Muhammad saw sejak ia hijrah. Dan karena itu pula ia sangat mendambakan perdamaian, dan tidak menyukai perang. Dalam hal ini selama hidupnya ia sangat cermat sekali. Ia tidak menempuh jalan itu, kalau tidak terpaksa karena membela kebebasan, membela agam dan kepercayaan. Bukankah ayat pertama yang datang mengenai perang berbunyi : “Kepada mereka yang diperangi, diizinkan (berperang), sebab mereka teraniaya; dan sungguh Allah Maha Kuasa menolong mereka” (QS. 22:39). Dan bukankah ayat berikutnya mengenai soal perang itu Allah berfirman : “Perangilah mereka sehingga tak ada lagi penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah” (QS. 2:193). (Disadur Achmad Muhammad dari Buku Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Heikal). HIJRAH RASUL
PENDUDUK YASRIB MENYAMBUT NABI
Berbondong-bondong penduduk Yasrib, laki-laki dan perempuan, keluar rumah hendak menyambut kedatangan Nabi Muhammad saw. Mereka berangkat setelah tersiar berita tent5ang hijrahnya, tentang Kuraisy yang hendak membunuhnya, tentang ketabahannya menempuh panas yang begitu membakar dalam perjalanan yang sangat meletihkan, mengarungi lautan pasir yang berbukit-bukit dan batu karang di tengah-tengah dataran Tihamah, yang justru memantulkan sinar matahari yang panas membakar. Mereka keluar karena terdorong ingin mengetahui sekitar berita tentang ajakannya yang sudah tersiar di seluruh Semenanjung. Ajakan ini juga yang sudah mengikis kepercayaan-kepercayaan lama yang diwarisi dari nenek-moyang mereka, yang sudah dianggap begitu suci.
Tetapi mereka keluar itu bukan disebabkan oleh dua alas an ini saja, melainkan lebih jauh lagi. Orang yang hijrah dari Mekah ini akan menetap di Yasrib. Setiap golongan, setiap kabilah dari penduduk Yasrib, dari segi politik dan social kesannya bermacam-macam. Inilah yang lebih banyak mendorong mereka menyongsong keluar, daripada sekedar ingin melihat orang ini. Juga mereka ingin tahu, benarkah itu memperkuat dugaan mereka, atau dapat saja yang sebaliknya.
Oleh karena itu, sambutan masyarakat musyrik dan Yahudi atas kedatangan Nabi tidak kurang semangatnya daripada sambutan kaum muslimin – Muhajirin dan Ansar. Mereka semua mengerumuninya. Sesuai perasaan yang berkecamuk dalam hati masing-masing terhadap pendatang baru orang besar ini, denyut jantung mereka pun tidak sama pula. Mereka sama-sama mengikutinya tatkala ia melepaskan kekang untanya dan membiarkannya berjalan sendiri, dengan agak kurang teratur karena masing-masing ingin memandang wajahnya. Semua ingin mengelilinginya dengan pandangan mata. Mereka ingin melihat sendiri orang yang telah membuat Ikrar Aqabah Kedua, bersama-sama penduduk kota ini yang telah membaiatnya – guna memerangi mati-matian terhadap Kuraisy. Orang ini yang telah hijrah meninggalkan tanah airnya, berpisah dengan keluarganya dengan memikul segala tekanan permusuhan dan tindakan kekerasan dari mereka selama tigabelas tahun terus-menerus. Ini semua dideritanya demi keyakinan tauhid kepada Allah, tauhid yang dasarnya adalah merenungkan alam semesta ini dan dengan jalan itu mengungkapkan hakekat yang ada.
KEBEBASAN BERAGAMA
Baik muslimin maupun yang lain seharusnya percaya, bahwa barangsiapa menerima pimpinan Allah dan sudah masuk ke dalam agama Allah, akan terlindung dari gangguan. Bagi orang yang sudah beriman akan bertambah kuat imannya, sedang bagi yang masih ragu-ragu, atau masih takut-takut atau yang lemah, akan segera pula menerima iman itu.
Pikiran itulah yang mula-mula meyakinkan Muhammad tinggal di Yasrib. Ke arah itu politiknya ditujukan dan dengan tujuan itu pula hendaknya sejarah hidupnya ditulis. Ia tak pernah memikirkan kerajaan, harta kekayaan atau perniagaan. Semua tujuannya untuk memberikan ketenangan jiwa bagi mereka yang menganut ajarannya, dengan jaminan kebebasan bagi mereka dalam menganut ajaran agama masing-masing. Bagi Muslim, Yahudi dan Nasrani masing-masing punya kebebasan yang sama dalam menganut kepercayaan, kebebasan yang sama menyatakan pendapat dan kebebasan yang sama pula menjalankan dakwah agama. Hanya kebebasanlah yang akan menjamin dunia ini mencapai kebenaran dan kemajuannya dalam menuju kesatuan yang integral dan terhormat. Setiap tindakan menentang kebebasan berarti memperkuat kebatilan, berarti menyebarkan kegelapan yang akhirnya akan mengikis habis percikan cahaya yang berkedip dalam hati nurani manusia. Percikan cahaya ini yang akan menghubungkan hati nurani manusia dengan alam semesta, dari awal hingga akhir zaman, suatu hubungan yang menjalin rasa kasih-sayang dan persatuan, bukan rasa kebencian dan kehancuran
MUHAMMAD SAW TIDAK MENGHENDAKI PERANG
Dengan pemikiran inilah wahyu itu disampaikan kepada Muhammad saw sejak ia hijrah. Dan karena itu pula ia sangat mendambakan perdamaian, dan tidak menyukai perang. Dalam hal ini selama hidupnya ia sangat cermat sekali. Ia tidak menempuh jalan itu, kalau tidak terpaksa karena membela kebebasan, membela agam dan kepercayaan. Bukankah ayat pertama yang datang mengenai perang berbunyi : “Kepada mereka yang diperangi, diizinkan (berperang), sebab mereka teraniaya; dan sungguh Allah Maha Kuasa menolong mereka” (QS. 22:39). Dan bukankah ayat berikutnya mengenai soal perang itu Allah berfirman : “Perangilah mereka sehingga tak ada lagi penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah” (QS. 2:193). (Disadur Achmad Muhammad dari Buku Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Heikal).

Mar

17

HIJRAH RASUL

By admin

HIJRAH RASUL
PENDUDUK YASRIB MENYAMBUT NABI
Berbondong-bondong penduduk Yasrib, laki-laki dan perempuan, keluar rumah hendak menyambut kedatangan Nabi Muhammad saw. Mereka berangkat setelah tersiar berita tent5ang hijrahnya, tentang Kuraisy yang hendak membunuhnya, tentang ketabahannya menempuh panas yang begitu membakar dalam perjalanan yang sangat meletihkan, mengarungi lautan pasir yang berbukit-bukit dan batu karang di tengah-tengah dataran Tihamah, yang justru memantulkan sinar matahari yang panas membakar. Mereka keluar karena terdorong ingin mengetahui sekitar berita tentang ajakannya yang sudah tersiar di seluruh Semenanjung. Ajakan ini juga yang sudah mengikis kepercayaan-kepercayaan lama yang diwarisi dari nenek-moyang mereka, yang sudah dianggap begitu suci.
Tetapi mereka keluar itu bukan disebabkan oleh dua alas an ini saja, melainkan lebih jauh lagi. Orang yang hijrah dari Mekah ini akan menetap di Yasrib. Setiap golongan, setiap kabilah dari penduduk Yasrib, dari segi politik dan social kesannya bermacam-macam. Inilah yang lebih banyak mendorong mereka menyongsong keluar, daripada sekedar ingin melihat orang ini. Juga mereka ingin tahu, benarkah itu memperkuat dugaan mereka, atau dapat saja yang sebaliknya.
Oleh karena itu, sambutan masyarakat musyrik dan Yahudi atas kedatangan Nabi tidak kurang semangatnya daripada sambutan kaum muslimin – Muhajirin dan Ansar. Mereka semua mengerumuninya. Sesuai perasaan yang berkecamuk dalam hati masing-masing terhadap pendatang baru orang besar ini, denyut jantung mereka pun tidak sama pula. Mereka sama-sama mengikutinya tatkala ia melepaskan kekang untanya dan membiarkannya berjalan sendiri, dengan agak kurang teratur karena masing-masing ingin memandang wajahnya. Semua ingin mengelilinginya dengan pandangan mata. Mereka ingin melihat sendiri orang yang telah membuat Ikrar Aqabah Kedua, bersama-sama penduduk kota ini yang telah membaiatnya – guna memerangi mati-matian terhadap Kuraisy. Orang ini yang telah hijrah meninggalkan tanah airnya, berpisah dengan keluarganya dengan memikul segala tekanan permusuhan dan tindakan kekerasan dari mereka selama tigabelas tahun terus-menerus. Ini semua dideritanya demi keyakinan tauhid kepada Allah, tauhid yang dasarnya adalah merenungkan alam semesta ini dan dengan jalan itu mengungkapkan hakekat yang ada.
KEBEBASAN BERAGAMA
Baik muslimin maupun yang lain seharusnya percaya, bahwa barangsiapa menerima pimpinan Allah dan sudah masuk ke dalam agama Allah, akan terlindung dari gangguan. Bagi orang yang sudah beriman akan bertambah kuat imannya, sedang bagi yang masih ragu-ragu, atau masih takut-takut atau yang lemah, akan segera pula menerima iman itu.
Pikiran itulah yang mula-mula meyakinkan Muhammad tinggal di Yasrib. Ke arah itu politiknya ditujukan dan dengan tujuan itu pula hendaknya sejarah hidupnya ditulis. Ia tak pernah memikirkan kerajaan, harta kekayaan atau perniagaan. Semua tujuannya untuk memberikan ketenangan jiwa bagi mereka yang menganut ajarannya, dengan jaminan kebebasan bagi mereka dalam menganut ajaran agama masing-masing. Bagi Muslim, Yahudi dan Nasrani masing-masing punya kebebasan yang sama dalam menganut kepercayaan, kebebasan yang sama menyatakan pendapat dan kebebasan yang sama pula menjalankan dakwah agama. Hanya kebebasanlah yang akan menjamin dunia ini mencapai kebenaran dan kemajuannya dalam menuju kesatuan yang integral dan terhormat. Setiap tindakan menentang kebebasan berarti memperkuat kebatilan, berarti menyebarkan kegelapan yang akhirnya akan mengikis habis percikan cahaya yang berkedip dalam hati nurani manusia. Percikan cahaya ini yang akan menghubungkan hati nurani manusia dengan alam semesta, dari awal hingga akhir zaman, suatu hubungan yang menjalin rasa kasih-sayang dan persatuan, bukan rasa kebencian dan kehancuran
MUHAMMAD SAW TIDAK MENGHENDAKI PERANG
Dengan pemikiran inilah wahyu itu disampaikan kepada Muhammad saw sejak ia hijrah. Dan karena itu pula ia sangat mendambakan perdamaian, dan tidak menyukai perang. Dalam hal ini selama hidupnya ia sangat cermat sekali. Ia tidak menempuh jalan itu, kalau tidak terpaksa karena membela kebebasan, membela agam dan kepercayaan. Bukankah ayat pertama yang datang mengenai perang berbunyi : “Kepada mereka yang diperangi, diizinkan (berperang), sebab mereka teraniaya; dan sungguh Allah Maha Kuasa menolong mereka” (QS. 22:39). Dan bukankah ayat berikutnya mengenai soal perang itu Allah berfirman : “Perangilah mereka sehingga tak ada lagi penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah” (QS. 2:193). (Disadur Achmad Muhammad dari Buku Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Heikal). HIJRAH RASUL
PENDUDUK YASRIB MENYAMBUT NABI
Berbondong-bondong penduduk Yasrib, laki-laki dan perempuan, keluar rumah hendak menyambut kedatangan Nabi Muhammad saw. Mereka berangkat setelah tersiar berita tent5ang hijrahnya, tentang Kuraisy yang hendak membunuhnya, tentang ketabahannya menempuh panas yang begitu membakar dalam perjalanan yang sangat meletihkan, mengarungi lautan pasir yang berbukit-bukit dan batu karang di tengah-tengah dataran Tihamah, yang justru memantulkan sinar matahari yang panas membakar. Mereka keluar karena terdorong ingin mengetahui sekitar berita tentang ajakannya yang sudah tersiar di seluruh Semenanjung. Ajakan ini juga yang sudah mengikis kepercayaan-kepercayaan lama yang diwarisi dari nenek-moyang mereka, yang sudah dianggap begitu suci.
Tetapi mereka keluar itu bukan disebabkan oleh dua alas an ini saja, melainkan lebih jauh lagi. Orang yang hijrah dari Mekah ini akan menetap di Yasrib. Setiap golongan, setiap kabilah dari penduduk Yasrib, dari segi politik dan social kesannya bermacam-macam. Inilah yang lebih banyak mendorong mereka menyongsong keluar, daripada sekedar ingin melihat orang ini. Juga mereka ingin tahu, benarkah itu memperkuat dugaan mereka, atau dapat saja yang sebaliknya.
Oleh karena itu, sambutan masyarakat musyrik dan Yahudi atas kedatangan Nabi tidak kurang semangatnya daripada sambutan kaum muslimin – Muhajirin dan Ansar. Mereka semua mengerumuninya. Sesuai perasaan yang berkecamuk dalam hati masing-masing terhadap pendatang baru orang besar ini, denyut jantung mereka pun tidak sama pula. Mereka sama-sama mengikutinya tatkala ia melepaskan kekang untanya dan membiarkannya berjalan sendiri, dengan agak kurang teratur karena masing-masing ingin memandang wajahnya. Semua ingin mengelilinginya dengan pandangan mata. Mereka ingin melihat sendiri orang yang telah membuat Ikrar Aqabah Kedua, bersama-sama penduduk kota ini yang telah membaiatnya – guna memerangi mati-matian terhadap Kuraisy. Orang ini yang telah hijrah meninggalkan tanah airnya, berpisah dengan keluarganya dengan memikul segala tekanan permusuhan dan tindakan kekerasan dari mereka selama tigabelas tahun terus-menerus. Ini semua dideritanya demi keyakinan tauhid kepada Allah, tauhid yang dasarnya adalah merenungkan alam semesta ini dan dengan jalan itu mengungkapkan hakekat yang ada.
KEBEBASAN BERAGAMA
Baik muslimin maupun yang lain seharusnya percaya, bahwa barangsiapa menerima pimpinan Allah dan sudah masuk ke dalam agama Allah, akan terlindung dari gangguan. Bagi orang yang sudah beriman akan bertambah kuat imannya, sedang bagi yang masih ragu-ragu, atau masih takut-takut atau yang lemah, akan segera pula menerima iman itu.
Pikiran itulah yang mula-mula meyakinkan Muhammad tinggal di Yasrib. Ke arah itu politiknya ditujukan dan dengan tujuan itu pula hendaknya sejarah hidupnya ditulis. Ia tak pernah memikirkan kerajaan, harta kekayaan atau perniagaan. Semua tujuannya untuk memberikan ketenangan jiwa bagi mereka yang menganut ajarannya, dengan jaminan kebebasan bagi mereka dalam menganut ajaran agama masing-masing. Bagi Muslim, Yahudi dan Nasrani masing-masing punya kebebasan yang sama dalam menganut kepercayaan, kebebasan yang sama menyatakan pendapat dan kebebasan yang sama pula menjalankan dakwah agama. Hanya kebebasanlah yang akan menjamin dunia ini mencapai kebenaran dan kemajuannya dalam menuju kesatuan yang integral dan terhormat. Setiap tindakan menentang kebebasan berarti memperkuat kebatilan, berarti menyebarkan kegelapan yang akhirnya akan mengikis habis percikan cahaya yang berkedip dalam hati nurani manusia. Percikan cahaya ini yang akan menghubungkan hati nurani manusia dengan alam semesta, dari awal hingga akhir zaman, suatu hubungan yang menjalin rasa kasih-sayang dan persatuan, bukan rasa kebencian dan kehancuran
MUHAMMAD SAW TIDAK MENGHENDAKI PERANG
Dengan pemikiran inilah wahyu itu disampaikan kepada Muhammad saw sejak ia hijrah. Dan karena itu pula ia sangat mendambakan perdamaian, dan tidak menyukai perang. Dalam hal ini selama hidupnya ia sangat cermat sekali. Ia tidak menempuh jalan itu, kalau tidak terpaksa karena membela kebebasan, membela agam dan kepercayaan. Bukankah ayat pertama yang datang mengenai perang berbunyi : “Kepada mereka yang diperangi, diizinkan (berperang), sebab mereka teraniaya; dan sungguh Allah Maha Kuasa menolong mereka” (QS. 22:39). Dan bukankah ayat berikutnya mengenai soal perang itu Allah berfirman : “Perangilah mereka sehingga tak ada lagi penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah” (QS. 2:193). (Disadur Achmad Muhammad dari Buku Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Heikal). HIJRAH RASUL
PENDUDUK YASRIB MENYAMBUT NABI
Berbondong-bondong penduduk Yasrib, laki-laki dan perempuan, keluar rumah hendak menyambut kedatangan Nabi Muhammad saw. Mereka berangkat setelah tersiar berita tent5ang hijrahnya, tentang Kuraisy yang hendak membunuhnya, tentang ketabahannya menempuh panas yang begitu membakar dalam perjalanan yang sangat meletihkan, mengarungi lautan pasir yang berbukit-bukit dan batu karang di tengah-tengah dataran Tihamah, yang justru memantulkan sinar matahari yang panas membakar. Mereka keluar karena terdorong ingin mengetahui sekitar berita tentang ajakannya yang sudah tersiar di seluruh Semenanjung. Ajakan ini juga yang sudah mengikis kepercayaan-kepercayaan lama yang diwarisi dari nenek-moyang mereka, yang sudah dianggap begitu suci.
Tetapi mereka keluar itu bukan disebabkan oleh dua alas an ini saja, melainkan lebih jauh lagi. Orang yang hijrah dari Mekah ini akan menetap di Yasrib. Setiap golongan, setiap kabilah dari penduduk Yasrib, dari segi politik dan social kesannya bermacam-macam. Inilah yang lebih banyak mendorong mereka menyongsong keluar, daripada sekedar ingin melihat orang ini. Juga mereka ingin tahu, benarkah itu memperkuat dugaan mereka, atau dapat saja yang sebaliknya.
Oleh karena itu, sambutan masyarakat musyrik dan Yahudi atas kedatangan Nabi tidak kurang semangatnya daripada sambutan kaum muslimin – Muhajirin dan Ansar. Mereka semua mengerumuninya. Sesuai perasaan yang berkecamuk dalam hati masing-masing terhadap pendatang baru orang besar ini, denyut jantung mereka pun tidak sama pula. Mereka sama-sama mengikutinya tatkala ia melepaskan kekang untanya dan membiarkannya berjalan sendiri, dengan agak kurang teratur karena masing-masing ingin memandang wajahnya. Semua ingin mengelilinginya dengan pandangan mata. Mereka ingin melihat sendiri orang yang telah membuat Ikrar Aqabah Kedua, bersama-sama penduduk kota ini yang telah membaiatnya – guna memerangi mati-matian terhadap Kuraisy. Orang ini yang telah hijrah meninggalkan tanah airnya, berpisah dengan keluarganya dengan memikul segala tekanan permusuhan dan tindakan kekerasan dari mereka selama tigabelas tahun terus-menerus. Ini semua dideritanya demi keyakinan tauhid kepada Allah, tauhid yang dasarnya adalah merenungkan alam semesta ini dan dengan jalan itu mengungkapkan hakekat yang ada.
KEBEBASAN BERAGAMA
Baik muslimin maupun yang lain seharusnya percaya, bahwa barangsiapa menerima pimpinan Allah dan sudah masuk ke dalam agama Allah, akan terlindung dari gangguan. Bagi orang yang sudah beriman akan bertambah kuat imannya, sedang bagi yang masih ragu-ragu, atau masih takut-takut atau yang lemah, akan segera pula menerima iman itu.
Pikiran itulah yang mula-mula meyakinkan Muhammad tinggal di Yasrib. Ke arah itu politiknya ditujukan dan dengan tujuan itu pula hendaknya sejarah hidupnya ditulis. Ia tak pernah memikirkan kerajaan, harta kekayaan atau perniagaan. Semua tujuannya untuk memberikan ketenangan jiwa bagi mereka yang menganut ajarannya, dengan jaminan kebebasan bagi mereka dalam menganut ajaran agama masing-masing. Bagi Muslim, Yahudi dan Nasrani masing-masing punya kebebasan yang sama dalam menganut kepercayaan, kebebasan yang sama menyatakan pendapat dan kebebasan yang sama pula menjalankan dakwah agama. Hanya kebebasanlah yang akan menjamin dunia ini mencapai kebenaran dan kemajuannya dalam menuju kesatuan yang integral dan terhormat. Setiap tindakan menentang kebebasan berarti memperkuat kebatilan, berarti menyebarkan kegelapan yang akhirnya akan mengikis habis percikan cahaya yang berkedip dalam hati nurani manusia. Percikan cahaya ini yang akan menghubungkan hati nurani manusia dengan alam semesta, dari awal hingga akhir zaman, suatu hubungan yang menjalin rasa kasih-sayang dan persatuan, bukan rasa kebencian dan kehancuran
MUHAMMAD SAW TIDAK MENGHENDAKI PERANG
Dengan pemikiran inilah wahyu itu disampaikan kepada Muhammad saw sejak ia hijrah. Dan karena itu pula ia sangat mendambakan perdamaian, dan tidak menyukai perang. Dalam hal ini selama hidupnya ia sangat cermat sekali. Ia tidak menempuh jalan itu, kalau tidak terpaksa karena membela kebebasan, membela agam dan kepercayaan. Bukankah ayat pertama yang datang mengenai perang berbunyi : “Kepada mereka yang diperangi, diizinkan (berperang), sebab mereka teraniaya; dan sungguh Allah Maha Kuasa menolong mereka” (QS. 22:39). Dan bukankah ayat berikutnya mengenai soal perang itu Allah berfirman : “Perangilah mereka sehingga tak ada lagi penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah” (QS. 2:193). (Disadur Achmad Muhammad dari Buku Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Heikal).

Mar

4

FADHILAH DZIKIR

By admin

DZIKIR & KEUTAMAANNYA
Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Darda` ra berkata, Rasulullah saw bersabda : “Sukakah saya beritahukan kepadamu sebaik-baik amalmu dan semulia-mulia di sisi Allah Tuhanmu dan setinggi-tinggi untuk derajatmu, bahkan lebih baik bagimu daripada bersedekah emas dan perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuh sehingga kamu memenggal leher mereka dan mereka memenggal lehermu, yaitu : Dzikir kepada Allah.”
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Ja’far ra berkata, Rasulullah saw bersabda : “Seberat-berat amal itu tiga macam : Menginsafi / mengadili diri sendiri, membantu saudara dengan harta, dan dzikir kepada Allah swt.” Muadz bin Jabal ra berkata ; Tiada amal yang dapat menyelamatkan anak Adam dari siksa Allah seperti dzikir pada Allah taala. Ketika ditanya : Walaupun jihad fi sabilillah? Jawabnya : Walaupun jihad fi sabilillah, tidak dapat menyamai kebesaran dzikir kepada Allah, sebab Allah telah berfirman : “Dan dzikirnya Allah itulah yang Mahabesar”; yakni orang yang berdzikir pasti akan dibalas dzikir oleh Allah, maka dzikirnya Allah itulah yang Mahabesar. “Fadzkuruni adzkurkum wasykuru li wala takfurun”. Rasulullah saw ditanya : Ya Rasulullah, amal apakah yang paling utama? Nabi saw menjawab : Kematianmu sedang lidahmu basah dengan dzikir kepada Allah.”
Malik bin Dinar berkata : Siapa yang tidak merasa lebih senang kepada kalamullah daripada bicaranya makhluk, maka sungguh amat sedikit amalnya, dan buta matahatinya, dan sia-sia umur serta hidupnya. Anas bin Malim as berkata, Rasulullah saw bersabda : “Dzikir pada Allah itu tanda adanya iman, dan kebebasan dari nifak (munafik), dan benteng dari syetan, dan penjagaan dari api neraka.” Abul-Laits berkata : Dzikirnya Allah kepada hamba-Nya ialah memaafkan dan mengampunkan. Maka apabila hamba berdzikir kepada Alla swt, Allah menyambut dengan pengampunannya. Ali bin Abi Thalib ra berkata : Dzikir seorang hamba karena diingatkan oleh Allah, kemudian jika telah berdzikir dimaafkan oleh Allah. Dan Islam itu melalui dua pedang, yakni ketika masih kafir, masuk Islam karena takut pedang, dan bila murtad dari Islam dihukum bunuh. Dan dosa itu terletak di antara dua kewajiban, kewajiban meninggalkan dosa, kemudian bila terlanjur berbuat dosa wajib bertaubat.
Abdullah ibnu Abbas ra ketika menafsirkan ayat “Min syarri al-waswas al-khannas” ia berkata : Syetan itu bertempat di hati, yakni dalam perasaan hawa nafsu dan syahwat, maka apabila disebut nama Allah ia surut mundur, dan bila lupa pada Allah ia berbisik dan mengajak kepada segala yang berlawanan dengan keselamatan manusia dan ajaran Allah dan rasulullah. Nabi saw bersabda ; “Tiap sesuatu ada alat pembersihannya, dan yang membersihkan hati itu ialah dzikir pada Allah (ingat pada ajaran tuntunan Allah)”.
Ibrahim Al-Nakho’i berkata : jika seorang masuk rumahnya dan member salam, maka syetan berkata : Tidak ada tempat untukku di sini, dan bila ia akan makan membaca bismillah, syetan berkata : Tidak ada tempat dan tidak ada makanan serta minuman untukku, lalu ia keluar dengan kecewa. Ibnu Mas’ud berkata : jika salah satu kamu makan lalu tidak membaca bismillah, maka syetan makan bersamanya, dan bila ia membaca bismillah, maka syetan itu bertolak untuk makan sisa makanan itu, bahkan ia akan memuntahkan apa yang sudah dimakannya, maka ia memulai dengan makanan yang baru.
Al-Fudhail bin Iyadh berkata : seorang datang berkata, nasehatilah aku. Fudhail berkata : Ingatlah daripadaku 5 macam : 1. Semua yang mengenai dirimu, maka katakanlah : itu qadha` dari Allah, supaya engkau tidak menyalahkan makhluk. 2. Jagalah lidahmu supaya semua makhluk selamat dari lidahmu dan engkau selamat dari siksa Allah. 3. Percayalah pada janji Tuhan mengenai soal rizqi supaya menjadi seorang mukmin. 4. Bersiap-siaplah untuk mati, supaya tidak mati dalam keadaan lupa. 5. Berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya terjaga dari dosa-dosa. Ibrahim bin Adham melihat seorang sedang bicara mengenai urusan dunia, lalu ia berhenti bertanya : Apakah bicaramu ini untuk mengharapkan pahala? Jawabnya : Tidak. Apakah kamu merasa aman dari siksa Allah? Jawabnya : Tidak. Lalu untuk apa bicara yang tidak dapat diharapkan pahalanya dan tidak aman dari siksa Allah, lebih baik kamu berdzikir kepada Allah taala.
Ka’bul Akhbar berkata : Kami telah mendapatkan dalam kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nabi, bahwa Allah telah berfirman : Siapa yang sibuk berdzikir kepadaku sehngga tidak meminta, maka Aku akan memberi kepadanya lebih dari apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang minta-minta. Fudhail bin Iyadh berkata : Sesungguhnya rumah yang ada orang berdzikir di dalamnya tampak terang bagi orang langit, sebagaimana lampu menerangi rumah yang gelap; sedang rumah yang tidak ada orang berdzikir di dalamnya menjadi gelap kepada seisi rumah itu.
Nabi Musa as berkata : Ya Rabbi, bagaimanakah saya akan mengetahui orang yang kamu cinta daripada orang yang Kamu benci atau murkai? Jawab Allah : Hai Musa jika Aku cinta pada hamba, maka Aku beri padanya dua tanda. Musa as bertanya : Apakah keduanya itu? Jawab Allah : Aku ringankan ia berdzikir kepada-Ku supaya Aku berdzikir kepadanya dalam alam malakut langit dan bumi, dan Aku pelihara dari yang haram dan murka-Ku supaya tidak terkena murka dan siksa-Ku. Hai Musa, dan sebaliknya jika aku benci pada hamba, Aku beri dua tanda. Aku lupakan dari dzikir-Ku dan Aku biarkan ia dengan hawa nafsunya supaya terjerumus dalam haram dan murka-Ku, sehingga layak menerima siksa dan balasan-Ku.
Allah berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kamu sekalian kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab 41). Ketahuilah bahwa dzikir pada Allah itu mengandung 5 macam kebaikan : 1. Tanda keridhaan Allah di dalamnya. 2. Menambah kerajinan berbuat taat. 3. Terlindung dari syetan selama berdzikir. 4. Melunakkan hati. 5. Mencegah dari maksiat. Wallahu a’lam. (Disarikan dari kitab Tanbih al-Ghafilin oleh : Achmad Muhammad).